Kisah Spiritual dari Makkah hingga Istanbul: Perjalanan yang Mengubah Hati

Ada perjalanan yang sekadar untuk berlibur, dan ada perjalanan yang meninggalkan jejak abadi di hati. Itulah yang dirasakan para jamaah yang mengikuti umroh plus turki sebuah perjalanan yang menggabungkan ibadah suci di Tanah Haram dengan keindahan sejarah Islam di negeri dua benua.

Setelah menunaikan umroh di Makkah dan berziarah ke Madinah, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Istanbul. Penerbangan ditempuh beberapa jam, namun begitu pesawat mendarat, rasa lelah langsung hilang berganti takjub. Dari balik jendela bus, menara-menara masjid menjulang megah di antara gedung klasik bergaya Eropa. Istanbul seolah berkata, “Selamat datang di negeri yang menyatukan masa lalu dan masa depan.”

Hari pertama, kami mengunjungi Masjid Sultan Ahmed atau yang dikenal dengan Masjid Biru. Kubahnya menjulang, dengan interior yang dihiasi ribuan ubin biru nan indah. Begitu sujud di dalamnya, suasana hening dan sejuk menyelimuti. Seorang jamaah berbisik lirih, “Rasanya seperti kembali ke masa kejayaan Islam.”

Tak jauh dari sana berdiri Hagia Sophia, bangunan yang dulu menjadi gereja, lalu masjid, dan kini kembali difungsikan sebagai rumah ibadah umat Islam. Cahaya matahari menembus jendela besar, menyinari kaligrafi bertuliskan nama Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah ﷺ di dinding tinggi. Semua mata terpaku, menyadari bahwa di tempat ini, sejarah berbicara tanpa suara.

Sore harinya, kami menikmati perjalanan menyusuri Selat Bosphorus. Kapal kecil membawa kami melintasi perbatasan Asia dan Eropa yang dipisahkan air biru berkilau. Di kejauhan, kubah masjid dan menara Galata tampak siluet di bawah langit senja. Seorang ibu jamaah menatap ke arah matahari terbenam sambil berucap, “Subhanallah, keindahan ini mengingatkan saya bahwa dunia ini hanyalah titipan.”

Perjalanan berikutnya membawa kami ke Bursa, kota yang dikenal sebagai tempat lahirnya Kesultanan Utsmani. Di sini, kami berziarah ke Makam Osman Gazi, pendiri dinasti besar yang berabad-abad memimpin dunia Islam. Meski sederhana, makam itu menyimpan wibawa luar biasa. Kami membaca doa bersama, mengenang perjuangan mereka yang membangun peradaban dengan iman dan keteguhan.

Bursa juga terkenal dengan Masjid Ulu Cami, masjid besar yang berdiri sejak abad ke-14. Dindingnya dipenuhi kaligrafi tulisan tangan yang begitu indah, seolah setiap hurufnya adalah doa yang hidup. Suasana di dalamnya terasa khusyuk. Aku duduk bersila, menatap lafadz Allah سبحانه وتعالى di dinding utama. Dalam hati, aku merasa kecil di hadapan sejarah besar umat ini.

Dari Bursa, perjalanan kami lanjutkan ke Cappadocia, tempat yang seolah diambil dari negeri dongeng. Pagi-pagi sekali, kami bersiap menaiki balon udara. Saat balon melayang perlahan, matahari muncul dari balik perbukitan batu yang menjulang. Ratusan balon berwarna-warni memenuhi langit, dan semua jamaah terdiam menatap pemandangan itu.

“Lihat,” kata salah satu jamaah sambil menunjuk ke arah langit, “di sini pun, kita bisa merasakan kebesaran Allah سبحانه وتعالى.”
Benar saja, di tengah keheningan udara pagi, hati kami terasa begitu damai. Rasanya seperti berada di antara bumi dan langit, menyaksikan keindahan ciptaan-Nya tanpa batas.

Menjelang akhir perjalanan, kami kembali ke Istanbul untuk mengunjungi Topkapi Palace, istana megah tempat para sultan memimpin dunia Islam. Di dalamnya tersimpan peninggalan berharga: pedang Rasulullah ﷺ, jubah sahabat, dan artefak sejarah Islam lainnya. Saat menatap pedang itu, tubuh terasa bergetar. Bukan karena kagum pada benda, tapi karena teringat perjuangan Rasulullah ﷺ dalam menegakkan kebenaran.

Malam terakhir kami habiskan di sekitar Taksim Square. Jalanan ramai, lampu kota berkelap-kelip, namun di hati kami hanya ada rasa syukur. Syukur karena bisa menapaki tanah yang penuh sejarah, dan karena Allah سبحانه وتعالى memberi kesempatan untuk melihat dunia dari sisi yang lebih dalam.

Program umroh plus turki bukan hanya soal wisata religi, tapi tentang perjalanan hati. Ia mengajak kita melihat jejak Islam dalam bentuk yang nyata — dari sujud di Masjidil Haram, hingga berdiri di bawah kubah Hagia Sophia yang legendaris.

Turki mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, tapi cermin bagi masa depan. Dan mungkin, di setiap langkah di tanah ini, kita belajar bahwa keindahan sejati bukan terletak pada pemandangan, tapi pada rasa yang tumbuh saat kita mengingat Sang Pencipta.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *