Tak ada yang kebetulan dalam hidup. Termasuk ketika aku melihat postingan dari Kelana Haramain Travel tentang perjalanan Umroh Plus Aqsho. Dalam video singkat itu, terlihat rombongan anak muda shalat di Masjidil Aqsho dengan air mata mengalir di pipi. Ada yang tersenyum, ada yang terdiam. Tapi semuanya memancarkan ketenangan.
Entah kenapa, video itu terasa memanggil. Bukan dengan suara, tapi dengan getaran hati. Sebagai anak muda yang sering merasa kosong di tengah rutinitas dunia digital, aku tahu — ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini panggilan jiwa.
Perjalanan dimulai dari Makkah. Melihat Ka’bah dari dekat adalah pengalaman yang tak tergantikan. Tangisan, doa, dan rasa syukur menyatu jadi satu. Setelah rangkaian ibadah Umroh selesai, kami berangkat menuju Madinah — kota penuh cinta, tempat Rasulullah ﷺ dimakamkan.
Tapi perjalanan yang paling mendebarkan baru dimulai saat kami menuju Palestina. Di dalam pesawat, suasana hening. Semua orang terdiam, hanya doa yang terdengar pelan. Ketika bus melintasi perbatasan, kami tahu kami sedang menuju tanah yang Allah سبحانه وتعالى berkahi dalam Al-Qur’an.
Dan ketika pertama kali melihat kubah emas Masjidil Aqsho, aku tidak bisa menahan air mata. Rasa haru, kagum, dan takjub bercampur jadi satu. Ini tempat yang selama ini hanya kulihat di foto, tapi kini ada di depan mata.
Begitu memasuki kompleks masjid, suasananya luar biasa tenang. Udara pagi terasa sejuk, burung-burung berterbangan di atas, dan cahaya matahari menembus pepohonan zaitun.
Saat takbir dikumandangkan, tubuhku bergetar. Di sinilah Rasulullah ﷺ melaksanakan Isra’ Mi’raj — dari bumi menuju langit membawa perintah shalat. Rasanya tidak ada tempat lain yang lebih suci untuk bersujud.
Di sela waktu, aku berbincang dengan warga setempat. Mereka bercerita tentang perjuangan mempertahankan masjid ini dari penjajahan. “Kami hanya punya satu kekuatan — doa,” kata seorang penjaga tua sambil tersenyum. Kalimat itu menusuk hati. Karena di balik penderitaan mereka, ada iman yang begitu kuat.
Itulah makna sejati dari perjalanan Umroh plus Aqso — menyaksikan kekuatan iman yang nyata, bukan teori.
Selama ini, banyak dari kita merasa kehilangan arah. Dunia serba cepat membuat kita lupa pada makna hidup. Tapi di Masjidil Aqsho, waktu seakan berhenti. Kamu akan menyadari bahwa ketenangan sejati bukan datang dari dunia luar, tapi dari hati yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى.
Program dari Kelana Haramain Travel tidak hanya sekadar mengantarkan jamaah ke tempat suci, tapi juga membantu kita merenungkan makna setiap langkah. Di Makkah kita belajar tunduk, di Madinah kita belajar kasih, dan di Al-Quds kita belajar keteguhan.
Buat Gen Z dan milenial, perjalanan ini adalah versi upgrade dari spiritual journey. Kamu tidak hanya mengunjungi tempat bersejarah, tapi juga menelusuri makna hidupmu sendiri.
Saat pesawat lepas landas dari Yerusalem, aku menatap keluar jendela. Kubah Masjidil Aqsho perlahan mengecil, tapi kenangan dan hikmahnya tertanam kuat di hati.
Aku sadar, perjalanan ini bukan akhir, tapi awal dari babak baru dalam hidup. Sebuah babak di mana aku ingin lebih dekat kepada Allah سبحانه وتعالى, lebih sadar akan perjuangan umat, dan lebih tulus dalam setiap doa.
Dan buat kamu yang sedang mencari ketenangan, jangan tunggu nanti. Dunia akan selalu menawarkan kesibukan, tapi hati akan selalu merindukan kedamaian.
Temukan makna itu dalam Umroh plus Aqsho, perjalanan spiritual yang tak hanya menyentuh kaki, tapi menembus hati dan menyinari jiwa dengan cahaya yang tak pernah padam.

Leave a Reply